pesona tapteng

Eksotisme Terumbu Karang dan Pasir di Pulau Putih.

Awan mendung yang menggantung di langit Sibolga Minggu (10/9) pagi itu sempat menyurutkan niat bepergian. Mengarungi laut dari dermaga Pangkalan TNI Angkatan Laut Sibolga menuju Pulau Mursala di Samudra Hindia dalam ancaman badai bukan perkara mudah, sekalipun kapal tersebut biasa berpatroli di perairan itu.

Sebenarnya yang dituju adalah Pulau Putih, pulau kecil yang berdekatan dan berada dalam gugusan Pulau Mursala. Jarak Pulau Putih dari Sibolga lebih kurang 12 mil laut dan ditempuh dalam waktu 45 menit dengan menggunakan Kapal TNI Angkatan Laut (KAL) berkecepatan 18 knot. KAL yang ditumpangi itu memiliki panjang 28 meter dengan nama lambung Mansalar, nama lain untuk Mursala.

Perihal cuaca buruk di Pantai Barat Sumatera Utara memang sudah sering terdengar. Bahkan bila dalam cuaca badai, tinggi gelombang di perairan ini bisa mencapai tiga hingga lima meter. Teringat cerita Komandan KAL Mansalar Letnan Satu TP Simbolon saat melakukan operasi penyelamatan terhadap korban KM Surya Makmur Indah yang tenggelam. Musibah itu mengakibatkan 17 orang tewas dan 37 penumpang lainnya sampai sekarang belum ditemukan.

“Waktu itu kapalnya sudah kami temukan dan terlihat, tetapi tinggi gelombang menghalangi kami mendekat. Daripada kami juga ikut tenggelam dihantam gelombang, saya putuskan untuk menjauhi lokasi kecelakaan,” ujar Simbolon.

Beruntung, mendung pagi itu rupanya tak terlalu lama karena sinar matahari pun kemudian menerobos dari celah–celah perbukitan yang mengelilingi Kota Sibolga. Namun, perasaan cemas masih juga bergayut meski laut dalam keadaan tenang saat kapal berlayar. Pagi itu ikut keluarga prajurit di jajaran Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Sibolga dan masyarakat sekitar pangkalan ikut juga berlayar ke Pulau Putih.

Buritan kapal penuh penumpang, mulai dari ibu–ibu hingga anak–anak kecil yang tampaknya terbiasa dengan cuaca buruk di perairan sekitar Sibolga. Tak tampak rasa cemas di wajah mereka. Yang ada malah keriangan dan canda tawa sepanjang perjalanan.

Di tengah perjalanan, tas pinggang salah seorang penumpang terjatuh ke laut. Si empunya tas duduk di pinggiran buritan, sementara tali tas pinggang tidak terlalu kuat melekat pada tubuhnya. Alhasil, komandan kapal memutuskan memutar haluan mencari tas tersebut. Tak berapa lama, tas berwarna hitam yang masih mengapung di lautan itu terlihat dan bisa diambil kembali meski peralatan elektronik seperti kamera dan telepon seluler di dalam tas itu mungkin tak terselamatkan.

Pasir putih

Perlahan Pulau Mursala mulai terlihat seperti gundukan bukit kehijauan. Di depannya terletak dua pulau kecil, Pulau Putri dan Pulau Putih. Pulau Putri lebih mirip gugusan karang tak berpenghuni yang dikerubuti tanaman berwarna kehijauan.

Sementara itu, di Pulau Putih dermaga kayu dan hamparan pasir putih yang mengelilingi pantainya terasa elok dipandang dari kejauhan. Belum lagi keindahan air laut yang berwarna hijau di pinggirnya serta membiru setelah agak ke tengah, semua itu ibarat komposisi yang pas untuk hiasan pulau mungil tersebut.

Di dermaga kami dijemput Arizisokhi Zega, lelaki asal Nias yang menjaga pulau itu bersama empat anaknya. Selain keluarga Zega, memang tak ada lagi penghuni di Pulau Putih. Zega dan keluarganya digaji oleh pemilik Hotel Wisata Indah Sibolga untuk mengelola resor di Pulau Putih.

Selain rumah untuk tempat tinggal Zega bersama keluarganya, di Pulau Putih terdapat tiga bungalo untuk pengunjung yang menginap serta tiga gazebo. Bangunan gazebo ini cukup unik karena di tengah–tengahnya terdapat tempat khusus untuk membakar ikan. Sementara itu, puluhan pohon kelapa meneduhi bangunan–bangunan tersebut membuat nyaman pengunjung yang ingin melepas penat dengan menikmati keindahan pantai.

Menurut Zega, penamaan Pulau Putih tak lepas dari hamparan pasir putih sepanjang pantainya. Karena letaknya yang berhadapan langsung dengan Pulau Mursala, pasir putih di Pulau Putih terlihat sangat bersih dan membuat banyak orang betah berenang di pantai sekitar itu.

Langsung dibakar

Selat kecil yang memisahkan Pulau Putih dengan Pulau Mursala juga kaya ikan karena terumbu karang di perairan tersebut relatif masih terjaga dari aktivitas pengeboman ikan. “Mereka yang datang ke sini juga sering hanya sekadar memancing. Ikan–ikan karang seperti ikan kerapu dan ikan jarang gigi banyak terdapat di sekitar sini,” ujar Zega.

Selesai memancing, pengunjung bisa langsung menikmati hasil pancingannya itu di gazebo. Menikmati ikan bakar sambil memandangi birunya lautan dan desahan angin bisa membuat orang lama bertahan di pulau yang luasnya tak lebih dari lima hektar itu.

Bagi yang hanya ingin menikmati birunya lautan memang cukup berenang di pinggiran pantai, sedangkan yang hobi menikmati keindahan bawah laut, terumbu karang di dekat Pulau Putih bisa dinikmati dengan cara menyelam maupun snorkeling. “Terumbu karang di sini relatif terjaga karena bebas dari aktivitas pengeboman ikan,” ujar Komandan Lanal Sibolga Letnan Kolonel Laut (P) Jaka Santosa.

Kalau ingin menikmati keindahan bawah laut di sekitar Pulau Putih, yang paling mudah memang snorkeling, mengingat peralatan yang dibawa tidaklah terlalu merepotkan. Pengelola pulau tidak menyediakan peralatan snorkeling maupun selam. Karena itu, bagi yang ingin menyelam, mereka harus membawa peralatan selam lebih dulu dari Sibolga.

Meski terumbu karang di perairan sekitar Pulau Putih sangat indah, mereka yang berenang, menyelam, maupun snorkeling harus berhati–hati dengan bulu babi. Biota laut yang memiliki duri–duri di sekitar tubuhnya ini sewaktu–waktu bisa melukai kita jika berenang atau menyelam di dekatnya. Tusukan bulu babi bisa membuat demam karena racun yang terkandung di dalamnya.

Selesai berenang, pengunjung bisa melepas lelah sambil menikmati air kelapa muda yang segar. Untuk itu, dua anak tertua Zega siap melayani. Satu buah kelapa muda dijual Rp 5.000. Rasanya tak lengkap bila seharian berenang dan tidak menikmati kesegaran air kelapa muda itu.

Pulau Putih yang eksotis itu memang tak banyak dikunjungi orang. Menurut Zega, hanya hari Minggu atau hari libur saja orang mau datang ke Pulau Putih tersebut. Jadi tak perlu heran pula kalau tempat penginapan dan fasilitas umum di lokasi itu kurang terawat. Zega mengakui, dia dan keluarganya tak bisa berbuat banyak karena hanya bertugas sebagai penjaga pulau.

Belum lagi, sarana transportasi untuk mencapai pulau tersebut pun terbatas. Meski relatif tidak terlalu lama ditempuh dari Sibolga, pengunjung yang sengaja ingin menikmati eksotisme Pulau Putih harus mau mengeluarkan ongkos cukup mahal. Dengan menyewa perahu nelayan, seorang pengunjung harus membayar Rp 75.000 untuk perjalanan pergi–pulang Sibolga–Pulau Putih. “Biasanya menggunakan perahu nelayan bermesin 200 PK. Waktu tempuhnya sekitar 20 menit. Atau bisa menyewa kapal cepat. Harga sewanya sekitar Rp 1,2 juta untuk pergi–pulang,” kata Zega menjelaskan. (Khaerudin)

Foto By : KOMPAS/ KHAERUDIN
Caption Foto : Keindahan Pulau Putih bisa dinikmati dengan berenang di sepanjang hamparan pasir putih yang bersih. Selain itu, kita juga bisa menyelam atau hanya sekadar snorkeling terumbu karang di sekitar perairannya yang masih terjaga dari kerusakan bisa dinikmati sepuasnya.

Sumber : kompas.co.id

Berwisata Tradisi “Mandi Balimo” di Tapanuli Tengah.

mandi balimo 

“MENJELANG bulan Ramadhan atau bulan melaksanakan ibadah puasa bagi umat Islam, lokasi objek wisata sungai di Tapanuli menjadi ramai. Wisatawan lokal (domestik) memadati objek wisata sungai untuk berwisata tradisi mandi balimo dan “Balimo-limo”

merupakan budaya Pesisir Sibolga-Tapanuli Tengah ketika menyambut masuknya bulan Ramadhan.”

Tradisi mandi Balimo-limo atau Marpangir ini dikenal banyak daerah di Indonesia seperti di Jawa Tengah dan sekitarnya dikenal dengan istilah Padusan, di daerah Riau dan Kepulauan Riau disebut ritual Petang Megang atau Mandi Balimau, sementara di Sumatra Barat dikenal dengan Balimau Basamo, di Sumatera Utara disebut mandi pangir atau Marpangir.

Khusus daerah Sumatera Utara, tradisi mandi Balimo atau Marpangir ini dikenal baik di daerah Tapanuli, tetapi lebih bermasyarakat di daerah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Sementara itu budaya mandi Balimo-limo juga dikenal masyarakat pesisir Sumatera Barat, masyarakat pesisir Sumatera Timur, semenanjung Melayu.

Tidak heran karena telah membudaya, mandi Balimo-limo atau Marpangir ini maka objek wisata sungai menjadi sasaran pengunjung, jadilah objek wisata sungai di daerah Tapanuli menjadi primadona, objek wisata sungai memiliki pesona tersendiri bagi mereka yang ingin melaksanakan mandi Balimo-limo itu.

Balimo-limo diambil dari kata limau (artinya rempah-rempah) dan mendapat awalan ber, artinya mengerjakan. Kata ini selanjutnya diucapkan dalam bahasa pesisir dengan sebutan balimo-limo. (red: tulisan Marpangir Tradisi Membersihkan Diri)

Hampir semua sungai di Tapanuli Tengah-Sibolga ramai dikunjungi untuk berwisata tradisi mandi Balimo-limo sehari sebelum masuk bulan Ramadhan. Beberapa sungai di Sibolga ramai dikungjungi seperti di aliran Sungai Sarudik, Sungai Sipansihaporas, Sungai Rindu Alam, Sungai Mela dan lainnya.

Hal yang sama juga terlihat pada sungai (Aek) di Tapanuli Tengah seperti Aek Sibundong di Sorkam dan Aek Sirahar di Desa Husor Kecamatan Barus, terlihat ribuan warga mulai dari anak-anak, remaja dan orang tua tumpah ruah memadati pinggiran sungai untuk melaksanakan budaya tradisi mandi Balimo-limo ini.

Menjadi Lautan Manusia

Tradisi mandi Balimo-limo ini membangkitkan aktivitas pariwisata di Tapanuli, tetapi masih sebatas wisata lokal (domestik) yakni masyarakat sekitar dan juga para perantau yang pulang ke kampung untuk menyambut bulan Ramadhan serta berwisata tradisi mandi Balimo-limo.

Aktivitas wisata dadakan ini memberikan peluang bisnis dadakan bagi para pelaku bisnis pariwisata dadakan pula. Sejumlah fasilitas wisata dadakan muncul. Para penjual makanan dan minuman, para penjual Limau dan penjual berbagai kebutuhan untuk parawisata dadakan itu.

Berwisata tradisi mandi Balimo-limo itu ternyata bukan sepenuhnya milik kaum muslim tetapi juga banyak para wisatawan yang datang ternyata tidak muslim, ada umat non-muslim ikut serta berwisata tradisi mandi Balimo-limo itu.

Alasannya berwisata tradisi mandi Balimo-limo menyenangkan dan sangat berkesan. “Biasanya kami akan mendapat kenalan baru di sini dan kegiatan ini hanya setahun sekali,” kata Ricardo Pasaribu kepada penulis di lokasi pemandian Aek Sirahar di Desa Husor Kecamatan Barus Kabupaten Tapanuli Tengah.

Bagi para pengunjung umumnya tidak semata-mata untuk Marpangir atau Balimo-limo tetapi ada yang diinginkan yakni berekreasi, berdarmawisata, melepaskan kelelahan, kejenuhan dan mencari kesegaran di alam terbuka. Tidak heran bila acara Marpangir atau Balimo-limo itu seharian penuh, dari pagi hingga petang.

Para pengunjung membawa perbekalan makanan dan minuman yang lezat-lezat. Bukan itu saja penjual makanan dan minuman dadakan yang hadir di lokasi objek wisata dadakan itu juga habis diserbu pengunjung. Nuansa rekreasinya lebih dominan bila dibandingkan dengan tradisi mandi Balimo-limo atau Marpangir sehingga tepat disebut dengan berwisata tradisi mandi Balimo-limo.

Lokasi pemandian yang biasanya sepi meskipun menawarkan pemandangan yang cukup indah, air sungai yang bening, jernih mengalir tiada henti membuat orang yang memandangnya ingin mandi, menikmati dingin dan sejuknya air yang mengalir di Aek Sirahar. Tidak seperti hari-hari biasa, pada hari sehari sebelum masuk bulan Ramadhan, Aek Sirahar di desa Husor menjadi lautan manusia, ramai-ramai mandi dan tiba-tiba menjadi lokasi wisata yang penuh pesona.

Lokasi Wisata Dadakan

Berwisata tradisi mandi Balimo-limo di Tapanuli membuat objek wisata sungai menjadi objek wisata dadakan. Hal itu karena bila hari-hari biasa sepanjang tahun bisa dihitung dengan jari tangan yang berkunjung ke objek wisata itu. Selalu sepi dengan pengunjung, hanya beberapa objek wisata sungai di Sibolga dan Tapanuli Tengah yang dikunjungi para pengunjung dalam jumlah sedikit seperti Sungai Sarudik dan Sungai Rindu Alam, sedangkan yang lainnya luput dari kunjungan wisata.

Sama halnya dengan Aek Sirahar di desa Husor Kecamatan Barus, sungai (Aek) ini luput dari kunjungan wisata, baik domestik apa lagi mancanegara. Pada hal kondisi sungai sangat indah dan bagus, bila ditata dengan baik. Penataan fasilitas untuk sebuah daerah tujuan wisata sama sekali tidak pernah dipikirkan oleh pemerintah kabupaten (Pemkab) maka wajar saja potensi wisata sungai (Aek) Sirahar terabaikan begitu saja. Hal yang sama juga dialami sungai-sungai lainnya di kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga.

Bila di luar negeri, oleh pemerintahnya sungai merupakan objek wisata yang dapat diandalkan. Berbeda dengan di Indonesia, hampir semua sungai luput dari penataan untuk sebuah objek wisata. Pada hal bila sungai ditata dengan baik bukan saja menjadi objek wisata tetapi melestarikan alam, mencegah terjadinya bencana banjir serta bila di tengah kota akan memperindah kota.

Ketika mau masuk bulan Ramadhan, ada wisata tradisi mandi Balimo-limo. Hal ini dapat menjadi motivasi, pemicu untuk menjadikan objek wisata sungai, itu bukan saja dikunjungi pada saat mau masuk bulan Ramadhan saja tetapi pada hari-hari besar, hari-hari libur juga dapat dijadikan tempat wisaya menyenangkan.

Tentunya harus ada penataan yang serius dan pada dasarnya tidak mengeluarkan dana yang besar sebab potensi alam yang ada pada objek wisata sungai sudah cukup memesona. Penataan dilakukan pada bidang fasilitas pendukung untuk sebuah objek wisata yakni fasilitas wisata mulai dari sarana dan prasarana jalan, fasilitas untuk mandi dan menikmati berbagai keindahan alam yang ada di objek wisata sungai. Hanya itu sehingga tidak lagi menjadi objek wisata dadakan.

Patung Tertinggi di Dunia akan dibangun di Tapanuli tengah.

Bukit Anugerah Tapanuli Tengah 

Seniman besar dari Bali Nyoman Nuarta dengan Bupati Tapanuli Tengah Drs Tuani Lumbantobing meyakinkantokoh masyarakat DR GM Panggabean, bahwa pembangunan patung tertinggi di dunia, yaitu patung Nabi Nuh, di Bukit Anugerah dekat Puncak GM Panggabean di Tapteng, sungguh-sungguh akan mulai dibangun tahun ini. Patung setinggi 80 meter itu, yang akan dilengkapi dengan Hotel berbintang dan berbagai fasilitas lainnya, akan menelan biaya Rp 450 miliar.
LUAR BIASA
Patung Nabi Nuh yang akan dibangun tersebut, tingginya 80 meter, sebagai patung figur, lebih tinggi dari patung Liberty di USA dan akan merupakan patung tertinggi di dunia. Ukuran kepala patung saja, tinggi 20 meter, lebar wajah 10 meter, telapak tangan 5 meter, di atas telapak tangan tersebut puluhan orang bisa berdiri. Naik turun di dalam patung ini bisa dengan lift.
Hotelnya juga sangat wah, berbentuk perahu, diibaratkan seperti perahu Nabi Nuh, lengkap dengan fasilitas kolam renang dll. Akan ada juga danau buatan dan taman hewan di mana berbagai jenis hewan dibiarkan bebas. Pokoknya, luar biasalah.
AKAN MEROBAH TOTAL

Proyek wisata Rp 450 miliar itu, menurut Nyoman Nuarta, akan merobah total pariwisata di Tapanuli bahkan Sumatera Utara dan Sumatera. Direncanakan sedemikian rupa, kelak akan bersinergi dengan obyek wisata Danau Toba/Samosir, Nias dan Sumbar. Direncanakan peletakan batu pertama akan dilakukan tgl 24 Agustus 2007 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dirangkaikan dengan HUT Kabupaten Tapanuli Tengah. Hal itu diterangkan Pak Nyoman dan Pak Tuani kepada Pak GM, Rabu (11/4) dari pukul 09.00 – 11.00 WIB, sebelum mereka pergi menghadap kepada Gubernur Sum-Utara Drs Rudolf Pardede. Kedatangan mereka kepada Pak GM, menurut Nyoman untuk  mohon dukungan, demi suksesnya pembangunan proyek wisata tersebut. Oleh Nyoman dijelaskan, untuk proyek ini, tak ada uang pemerintah. Pak Nyoman juga berjanji untuk membuat master plan Puncak GM Panggabean yang letaknya bertetangga dengan Bukit Anugerah, agar bisa bersinergi.
MENDUKUNG
Pendek cerita, setelah mendengar semua uraian dari Pak Nyoman dan Pak Tuani Lumbantobing, DR GM Panggabean spontan mengatakan, mendukung, dan semoga Tuhan memberkati. Tidak ada alasan untuk tidak mendukung, kata Pak GM. Proyek ini akan membawa kemajuan yang luar biasa kelak kepada pembangunan Tapanuli yang akan menjadi propinsi. Juga saya percaya kepada Pak Tuani, percaya pada Pak Nyoman, dan tak ada uang pemerintah untuk proyek ini. Maka saya mendukung, tegas Pak GM. Dia pun, mengucapkan banyak terimakasih kepada Pak Tuani yang tidak henti-hentinya mencari ide-ide baru untuk membuat Tapanuli maju dengan rencana-rencana proyek yang spektakuler dan berwawasan jauh ke depan, juga mengucapkan terimakasih kepada Pak Nyoman Nuarta, yang berkenan membangun proyek wisata yang hebat itu di Tapanuli Tengah. Pada kesempatan itu, oleh Pak Nyoman Nuarta diserahkan replika patung Nabi Nuh kepada Pak GM.
Pembangunan patung figur tertinggi di dunia Patung Nabi Nuh setinggi 80 meter yang terintegrasi dengan Hotel bertaraf internasional bintang 5 di Bukit Anugerah Bonan Dolok Tapanuli Tengah akan menjadi ikon pariwisata bukan saja di Sumut tapi mendunia. Pembangunan kawasan wisata yang memadukan potensi laut dan pulau ini dipersiapkan secara wah dengan biaya sedikitnya mencapai Rp450 miliar. Patung Nabi Nuh yang tingginya hampir dua kali dari Patung Liberty di AS akan dijadikan simbol wisata multireligi yang diharapkan menjadi pesona dunia. Pembangunan hotel dan patung tertinggi di dunia ini dipersiapkan secara sangat matang dengan memperhatikan sedetail mungkin struktur tanah Bukit Anugerah, guncangan gempa bahkan kekuatan tiupan angin yang menerpa patung. Keseluruhan hitungan matematis dilakukan untuk mempersiapkan daya tahan hotel dan patung tersebut untuk limit sedikitnya 500 tahun. Hotel berlantai 7 dibangun dengan konsep berkelas dunia namun mampu menampung pangsa pasar wisatawan menengah. Di sini dipersiapkan hunian dan fasilitas yang memang untuk standard VIP, namun dipersiapkan juga hunian dan fasilitas untuk kelas di bawahnya. Dengan konsep ini maka pusat wisata Bukit Anugerah mampu menyenangkan wisatawan berkelas dari mancanegara maupun dalam negeri, juga mampu dijangkau oleh wisatawan lokal dan menengah. Untuk pembangunan hotel diperkirakan membutuhkan waktu 1 tahun, sedangkan untuk pembuatan Patung Nabi Nuh baru bisa dirampungkan dalam kurun 3 tahun. Peletakan batu pertama pembangunan hotelnya akan dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 24 Agustus 2007, tepat pada acara peringatan HUT Kabupaten Tapanuli Tengah, kata Bupati Tapanuli Tengah Drs Tuani Lumbantobing bersama Nyoman Nuarta, seniman Bali yang juga usahawan Pariwisata Pelaksana Pembangunan Hotel dan Patung Nabi Nuh Bukit Anugerah pada pertemuan dengan DR GM Panggabean, Rabu (11/4) di kediaman Pak GM Medan. Ikut dalam pertemuan tersebut Wakil Ketua Partai Demokrat Tapanuli Tengah GM Windu Panggabean dan Van Cuson Sianturi.
Dikatakan Tuani Lumbantobing, dengan masa pekerjaan 1 tahun maka diharapkan pembangunan hotel bisa dirampungkan pada 2008. Dan saat itu diharapkan pula Presiden RI bersama pemimpin-pemimpin negara lainnya bisa bersama-sama meresmikan Kawasan Wisata Multireligi yang menjadi pesona dunia. Diharapkan keberadaan Patung Nabi Nuh bisa menjadi perlambang persaudaraan dunia dan didengungkannya slogan Kita Semua Bersaudara.
Kita impikan nantinya saat peresmian, Bapak Presiden RI bisa mengundang pemimpin-pemimpin negara lainnya untuk hadir menyaksikan Patung Nabi Nuh dan mendeklarasikan slogan “Kita Semua Bersaudara” kata Tuani Tobing. Namun saat diresmikan, patung Nabi Nuh masih akan dalam bentuk setengah badan atau kepalanya saja karena pembuatan Patung membutuhkan waktu 3 tahun lebih lama dari hotel yang hanya butuh waktu 1 tahun. Pembangunan hotel dan Patung Nabi Nuh serta pengembangan konsep ekowisata di Tapanuli Tengah dikonsep dan sekaligus pula dikerjakan oleh Nyoman Nuarta, seniman Bali yang juga pengusaha pariwisata pemilik PT Siluet Nyoman Nuarta. Nyoman Nuarta dikenal bertangan dingin dalam mengembangkan usaha pariwisata. Salah satunya adalah keberhasilannya membangun kawasan wisata Garuda Wisata Kencana (GWK) mengubah sebuah kawasan kumuh bekas pertambangan kapur di Bali yang kini menjadi pusat wisata yang banyak menyita perhatian turis asing. Menurut Nyoman Nuarta, ia tertarik dan mau menanamkan investasi pembangunan hotel dan Patung Nabi Nuh karena melihat potensi yang luar biasa dari daerah Tapanuli Tengah. Daerah ini menurutnya sangat cocok dengan trend wisata dunia karena memiliki potensi laut dan pulau. Di sini terdapat pantai yang luar biasa, laut yang jernih dan bersih, terdapat pulau-pulau yang alami serta pegunungan yang berisikan hutan-hutan hijau.
Kondisi alam seperti itu, kata Nyoman Nuarta berdasarkan survei ternyata sangat diminati oleh wisatawan mancanegara. Maka, katanya ketika Bupati Tuani Tobing memintanya melakukan investasi mengembangkan wisata di Tapteng, ia tertarik apalagi memiliki spesifik potensi wisata religi.
Untuk mengembangkan menjadi wisata religi berkelas dunia, Nyoman Nuarta mengatakan, pembangunan Patung Nabi Nuh dilakukannya dengan sangat penuh perhitungan. Ia tidak ingin pembangunan patung ini justru bermasalah di belakang hari. Untuk itu, ia melakukan berbagai tahapan dan penelitian secara berhati-hati termasuk melakukan perhitungan terhadap kemungkinan terjadinya gempa, kekuatan struktur tanah dan kekuatan angin.
“Kita tidak bisa menyepelekan kekuatan angin yang bisa mengganggu kekokohan patung yang tingginya sampai 80 meter. Makanya kita akan melakukan penelitian dengan meminta bantuan seorang ahli dari Melbourne Australia, kata Nyoman Nuarta. Untuk ketahanan terhadap gempa, bangunan hotel dan patung dipersiapkan mampu menahan guncangan gempa sampai berskala 7 richter. Selain itu, sejumlah bahan baku seperti lempengan tembaga untuk bahan pembuatan patung akan didatangkan dari luar negeri. Ini dilakukan untuk menjaga kualitas patung. Patung Nabi Nuh menjadi patung figur tertinggi di dunia dengan total ketinggian 80 meter, terdiri dari 60 meter tubuh patung dan 20 meter dasar patung. Untuk luas kepala patungnya terdiri 20 meter tinggi dan 10 meter lebar. Patung Nabi Nuh dibangun dalam posisi berdiri penuh/tegak dengan tangan terentang dan jemari terbuka yang menggambarkan persaudaraan. Satu jemari patungnya saja akan mampu menampung puluhan orang. Sementara untuk mencapai ketinggian patung dari dasar patung hingga ke setiap ruangan di tubuh patung, hingga ke puncak patung dapat dilalui dengan lift. Di dalam tubuh patung dibuat pula ruangan khusus sebagai salah satu penguat pesona wisata religi dunia dengan adanya nuansa kental dari 6 agama terbesar di dunia. Dijelaskan Nyoman, Patung Nabi Nuh akan dibuat berwarna Hijau karena dinilai sangat cocok dengan suasana alami lingkungan. “Dengan warna Hijau itu maka Patungnya nanti akan semakin hidup karena diwarnai lagi dengan kehijauan alam sekitar, paparnya. Hotel yang dibangun berbentuk Perahu Nabi Nuh dibangun 200 meter di atas permukaan laut. Dari lokasi ini akan disinergikan dengan Pulau Mursala (Mansalar island) dengan dilengkapi transportasi berupa taksi air dan pesawat air. Bahkan akan dibuat pula monorel yang menghubungkan Bukit Anugerah ke Pulau Mursala. Monorel ini dipersiapkan untuk bisa mengangkut 25 orang. Sebagai hotel berkelas dunia, Nyoman menyebut hotel ini dilengkapi dengan fasilitas komplit. Terdapat restoran dengan kualitas bintang 5 standard internasional, home theatre, convention berdaya tampung 1.000 orang, kolam renang, business center, cottages dan fasilitas lainnya. Keseluruhan areal hotel dan patung tersebut mencapai luas 4 Ha.
Menurut Nyoman, investasi pembangunan kawasan wisata multireligi ini tidaklah sulit direalisir karena potensinya sangat jelas. Ia sangat optimis akan sangat banyak pemilik modal yang bakal ikut, atau ia sendiri sangat optimis pihak perbankan akan mendukung pengembangan bisnis tersebut.
Apalagi dalam pemasaran hotel nantinya akan dikembangkan dengan konsep strata tytle. Artinya, siapa saja boleh ikut memiliki kamar-kamar hotel tentunya dengan tetap mengikuti ketentuan yang diberlakukan perusahaan.
Kita optimis saat lounching nanti paling tidak akan terjual cepat 125 kamar, ungkap Nyoman. Di luar pembangunan hotel dan patung juga dikembangkan konsep wisata laut dan pulau. Di sinilah peran Pemkab Tapanuli Tengah dibutuhkan karena diperlukan lahan yang cukup luas. Diperkirakan untuk mendukung pengembangan wisata ini dibutuhkan sekitar 800 Ha lahan yang di antaranya akan dibuat menjadi lokasi danau buatan, taman safari, camping ground dan lainnya.
Pak GM dalam pertemuan tersebut terlihat sangat kagum dengan konsep yang akan dijalankan Nyoman Nuarta. Pak GM sangat berharap pembangunan hotel dan Patung Nabi Nuh bisa berjalan dengan baik karena diyakininya hal itu bisa mengangkat daerah Tapanuli Tengah, bahkan menjadi kebanggaan Indonesia.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s